
Secara umum, saat itu ada tiga kelompok masyarakat, yaitu: Nasionalis, Agamis, dan Komunis. Perang pemikiran (Ghozwatul Fikr) telah berubah menjadi bentrokan fisik yang meluas di hampir seluruh wilayah. Sebuah keterangan mengatakan, bahwa kejadian itu memakan korban hingga dua juta nyawa. Jumlah ini belum termasuk ribuan orang yang dijebloskan ke penjara, ribuan anak kehilangan orang tua, dan rasa traumatic yang menghantui.
Dengan berbagai cara, kelompok komunis menyebar secara sporadis dan mencoba membangun ‘rumah’ kembali dengan menyelundup ke berbagai perkumpulan, baik lewat partai politik, orgasasi buruh, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), atau yang lainnya. Mereka seperti bungklon, yang siap berganti-ganti baju untuk meneruskan paham mereka. Tulisan pertama ini akan membahas tentang lahirnya paham komunisme dan bahayanya bagi kehidupan beragama dan bernegara.
Nama Komunisme..??
Komunisme lahir dari persaingan manusia dengan manusia lain dalam mempertentangkan kelas –social— mereka. Hegel menulis “Sebuah medan tempur tempat bertemunya semua kepentingan pribadi orang.” (Perang melawan semua). Marx melihat akan kesengsaraan kaum buruh yang semakin sengsara dan dengan kondisi berbalik pada kaum berduit (borjuis) yang terjamin kebutuhan-kebutuhannya dengan tanpa banyak mengeluarkan keringat. Pertentangan ini kemudian melahirkan sebuah kata “sejarah”. Dalam Manifesto Komunis, Marx menulis, “Sejarah dari berbagai masyarakat hingga saat ini pada dasarnya adalah sejarah tentang pertentangan kelas”.
Kata komunisme sendiri berasal dari bahasa latin “Communis” yang berarti milik bersama. Istilah komunis mulai digunakan pada tahun 1830 pada masa revolusi rahasia Paris. Pada mulanya komunisme berarti percaya akan kepemilikan, pengurusan, dan penggunaan bersama. (The Profile of Communism A Fact-by-Fact Primer, edited and resived by Moshe Decter, N.V.). Dengan kata lain, komunisme merupakan suatu sistem tentang organisasi sosial yang mengakibatkan milik bersama atas bidang produksi menuju arah persamaan dalam bidang distribusi hasil industri. Lawannya adalah sistem pribadi (Webster Dictionary).
Dalam perkembangannya, komunis terbagi mejadi dua, yaitu sosial demokrat (yang kemudian berubah menjadi paham sosialis) dan komunis praksis Marx. Kelompok pertama menginginkan sistem pemerintahan demokratis parlementer. Sedangkan yang kedua adalah komunis yang menghendaki penguasaan kaum buruh (diktatur proletar) dan menolak demokratis parlemanter.Komunisme ciptaan Marx merupakan campuran dari teori dialektika Hegel, materialisme (paham kebendaan), dan Darwinisme. Yang menonjol dari faham ini adalah menginginkan sebuah tata dunia baru yang dikuasai oleh para buruh yang dikelola secara kolektif dalam wadah negara. Kekayaan harus dikuasai Negara, bukannya secara pribadi. Pemahaman inilah yang kemudian diteruskan oleh Stalin, Lenin, Mao Tse Tung dan melahirkan dua raksasa komunis, yaitu Rusia dan Cina.
Sebetulnya Marx tidak sendirian dalam merumuskan komunisme. Ia ditemani oleh Friedrich Engels, anak seorang pengusaha yang berumur dua tahun lebih muda darinya. Komunis ini lahir dari analisis sejarah Marx yang dipengaruhi metode dialektika Hegel (Jerman). Hegel mengatakan bahwa sejarah merupakan suatu proses yang membentang melalui pembentukan dan penyatuan ide-ide yang bertentangan. kemudian muncullah tesis yaitu kekuatan positif yang tidak sempurna, dan melahirkan antitesis, yaitu kekuatan yang berlawanan. Dari dua hal tersebut lahirlah sebuah ‘jalan tengah’ yang disebut sintesis. Untuk itu, Marx mengeklaim bahwa gagasannya sebagai teori ilmiah, dengan mempertentangkan kaum kapitalis sebagai tesis, kaum proletar (buruh) sebagai antitesis, dan komunisme sebagai sintesis.
Awalnya, Marx mengakui akan seluruh pemikiran Hegel. Namun, dalam perkembangannya, ia berubah pemikiran terutama tentang konsep idealism spiritualisme-nya Hegel. Sebagaimana yang diketahui, Hegel mempunyai teori bahwa esensi yang ada pada manusia terletak pada dimensi spiritual atau ruh. Namun Marx berpendapat, bahwa perjalanan dialektika pada level metafisik (roh) akan membawa manusia pada dunia khayali atau utopia. Marx semakin mantap dengan pemikirannya ketika hadir seorang materialis bernama Ludwig Andreas Feuerbach (1804 – 1872). Pemikir Jerman itu berpendapat bahwa hakekat segala sesuatu itu ditentukan oleh hal-hal material bukan immaterial. Ambiguitas Hegel tentang konsep Tuhan dan Jiwa di babat habis oleh Feurbach, ia mengajak kepada para Hegelian untuk tidak menempatkan filsafat pada Tuhan atau Jiwa, sebab metafisik merupakan materi, bukan jiwa sebagaimana yang disampaikan oleh Hegel. Setelah terpengaruh filsafat Materialisme, Marx memahami secara sederhana bahwa semua benda yang bergerak adalah penggerak dari segala-galanya. Benda ini bisa memberi kekuatan hidup dan energi untuk mematikan. Di sinilah kita bisa menarik kesimpulan bahwa dialektika yang dikembangkan oleh Marx berbeda dengan dialektikanya Democritus, Hegel, dan lain sebagainya. Namun dialektika yang hanya mengakui eksistensi benda-benda nyata (materi) dan tidak mengakui segala sesuatu di luar benda nyata (immateri), seperti, Tuhan, ruh, hari akhir (kiamat), dan kebangkitan setelah mati. Dialektika ini kemudian dikenal dengan dialektika-materialis.
Tentang kemutlakan manusia sebagai pusat edar peradaban, ia menulis “Bahwa manusia adalah sebuah makhluk obyektif hidup, nyata, memiliki panca indra penuh kekuatan alamiyah berarti mengatakan bahwa dia memilih obyek-obyek indra yang nyata sebagai obyek-obyek kejadian dan hidupnya atau bahwa dia hanya bisa mengekspresikan hidupnya dalam obyek-obyek yang berkaitan dengan panca indra.” Lebih jauh ia mengatakan “Keseluruhan yang dinamakan sejarah dunia hanyalah produksi manusia melalui pekerjannya….” (From Socrates to Sartre: the Philosophic Quest, 1984, T.Z. Lavine)
Bahaya Komunisme
Dari paparan di atas, komunisme merupakan gerakan yang menyangkut aturan fisik infrastruktur) dan keyakinan (suprastruktur). Keyakinan yang dibawa oleh Marx tentu merupakan keyakinan materialisme yang ateis. Dalam salah satu tulisannya, Marx mengatakan bahwa “… saya tegaskan bahwa saya membenci tuhan-tuhan … Seluruh bukti tetang adanya Tuhan, justru membuktikan tentang tidak adanya Tuhan.”